TimesPublik.com – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengumpulkan para agen LPG 3 kg se-Bandung Barat pada Jum’at, (4/7/2025).
Hal itu dilakukan untuk memastikan harga si Melon ini di pasaran terkendali, menyusul kenaikan harga tertinggi (HET) dari Rp 16.600 menjadi Rp 19.000/tabung.
Kepala Disperindag KBB, Ricky Riyadi mengatakan, pemanggilan para agen itu untuk melakukan pengawasan terhadap para pangkalan. Begitu juga, pangkalan ikut melakukan pengawasan terhadap sub-sub pangkalan.
Ia mengaku sengaja mengaja mengumpulkan 41 agen yang membawahi 1.108 pangkalan tersebar 16 kecamatan di KBB dengan alasan Gas LPG 3 Kg memiliki nilai subsidi. Sehingga, dalam menentukan harga tidak boleh sembarangan.
“Saya sudah sampaikan, agar hal ini menjadi tanggung jawab renteng. Saya mengawasi agen, Hiswana juga mengawasi agen dan pangkalan. Kalau ada pangkalan yang nakal, agennya pun kena. Agennya punya tanggung jawab mengawasi pangkalan,” kata Ricky, saat Sosialisasi SK Bupati Nomor 100.3.3.2/ Kep.161-Disperindag/2025 tentang Penetapan HET Liquefied Petrolum Gas LPG Tabung 3 Kg di Villa Pasundan, Cilame-Ngamprah.
Ia pun menjelaskan untuk menentukan HET, pemerintah telah mempertimbangkan berbagai hal secara matang, berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS), BI, OJK dan lainnya. Maka dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan itu.
“Apabila HET yang sudah ditetapkan itu dilaksanakan, sesuai, tidak ada kecurangan, Insyaallah tidak menyebabkan inflasi,” imbuhnya.
Terkait kenaikan LPG 3 kg beberapa hari ke belakang di sejumlah wilayah KBB, kata Ricky, kemungkinan pangkalan tidak diawasi oleh agen.
Oleh karena itu, ia mewanti-wanti agar agen melakukan pengawasan lebih intensif kepada pangkalan. Sedangkan di warungan, memang tidak diatur harganya.
Hanya saja, harus tetap dalam batas kewajaran, dengan HET yang sekarang paling tinggi harganya Rp25 ribu/ tabung.
“Rata-rata memang harga di warungan variasi, antara Rp23.000/ tabung sampai Rp25.000/ tabung,” ungkapnya.
Untuk kenaikan Gas LPG 3 kg ini sambung Ricky, sebenarnya dari Rp16.000 menjadi Rp19.600. Akan tetapi berdasarkan rekomendasi Gubernur Jawa Barat, dilakukan secara bertahap.
“Dilihat perkembangan dulu, kalau memang stabil baru dinaikan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Hiswana Migas KBB, Opik Taupik mengatakan, HET gas LPG 3 kg ini baru mengalami kenaikan lagi sejak tahun 2013.
Sementara beban agen dan pangkalan cukup berat. Di sisi lain para pengusaha ini dibenturkan dengan inflasi, padahal agen dan pangkalan juga terdampak Inflasi.
“Kalau ada penyesuaian harga di pasaran HET, beban pangkalan dan agen agak berkurang. Takutnya beban para agen dan pangkalan biaya operasional dengan keuntungan, tidak sesuai. Khawatir (agen dan pangkalan) malah pada berhenti,” katanya.
Disinggung tentang keluhan masyarakat ada diantaranya tabung dengan isi tidak sesuai, kata Opik, hanya beda persepsi saja.
“Kebanyakan masyarakat itu melihat dari parameter regulator. Sebetulnya bagi kami itu meteran regulator tersebut tidak menjamin valid karena segala ukuran harus divalidasi dengan metrologi,” ujarnya
“Mungkin, itukan sifatnya tekanan sehingga kalau pun tekanan di parameter itu sudah merah sebetulnya itu gasnya masih ada di dalam,” pungkasnya. ****











