TimesPublik.com – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggelar pelatihan kewirausahaan dan kemandirian ekonomi berbasis keterampilan digital.
Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pembangunan inklusif yang menempatkan perempuan menjadi sasaran utama menjadi penggerak ekonomi.
Kepala DP2KBP3A KBB, Akhmad Panji Hernawan mengatakan, jumlah penduduk Kabupaten Bandung Barat pada 2026 mencapai 1,9 juta jiwa, dengan komposisi laki-laki 51 persen dan perempuan 49 persen serta laju pertumbuhan 1,37 persen.
“Angka ini menunjukkan betapa besarnya populasi perempuan yang berada dalam posisi krusial dan perlunya dukungan berkelanjutan,” kata Panji di Ruang Rapat Bangga Kencana DP2KBP3A Ngamprah, Kamis (16/4/2026).
Ia pun menjelaskan, pelatiahan ini digelar bukan hanya seremonial saja melainkan bagian integral dari pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang mengacu pada Perda KBB nomor 3 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Menurutnya, program tersebut selaras dengan pembangunan daerah dalam program AMANAH yang mencakup pemberantasan kemiskinan dan zero new stunting,
Program tersebut sebagai salah satu upaya untuk mendorong pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dalam pembangunan.
“Pemda berkomitmen memastikan setiap alokasi anggaran benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara inklusif. Perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi aktor utama penggerak ekonomi lokal,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui DP2KBP3A dengan sektor korporasi PT Telkom Indonesia serta akademisi dari Telkom University.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menjadi katalis percepatan pembangunan ekonomi lokal yang responsif gender.
“Kami menyadari perempuan sering menghadapi berbagai tantangan hidup. Namun di balik itu, terdapat kekuatan dan resiliensi luar biasa. Perempuan adalah tiang penyangga keluarga yang memiliki potensi besar untuk mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Pelatihan tersebut akan berlangsung selama tiga haei dengan berbagai materi strategis yang bertujuan membekali peserta dengan kemampun praktis.
Adapun materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut seperti, mindset kewirausahaan, digital marketing hingga keterampilan teknis seperti pengolahan kuliner, kriya, fashion, dan pemanfaatan teknologi serta artificial intelligence (AI).
“Program ini tidak sekadar formalitas. Kami ingin memberikan alat dan keterampilan konkret agar para peserta mampu berdikari. Tujuannya jelas, memutus rantai ketergantungan ekonomi dan kemiskinan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia perempuan,” kata Panji.
Ia juga mendorong para peserta untuk memanfaatkan pelatihan ini sebagai momentum perubahan. Dengan dukungan, tenaga ahli dari Telkom University dan teknologi dari Telkom Indonesia.
Para peserta diharapkan mampu bertransformasi menjadi pelaku usaha rumah tangga yang tangguh dan melek digital.
“Jangan pernah ragu atau merasa tidak mampu. Dengan bimbingan yang tepat, saya yakin ibu-ibu bisa berkembang menjadi pelaku usaha yang mandiri,” pungkasnya.***











