TimesPublik.com – Kasus kekerasan anak dan perempuan di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini terus mengalami peningkatan. Hingga September 2025, tercatat ada 85 laporan kekerasan anak dan perempuan.
Berdasarkan data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) KBB, 87 laporan itu terdiri dari, 51 laporan anak.
Kemudian, 18 laporan kekerasan perempuan, 19 laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan 1 kasus trafficking.
Kepala Dinas DP2KBP3A, Achmad Panji Hernawan melalui Kepala Bidang PPPA, Rini RiniHaryani mengatakan, laporan kasus tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2024, yang hanya 71 kasus.
“Tahun kemarin 71 kasus, sementara sekarang belum sampai Desember, baru September sudah 87 laporan. Artinya tren naik,” kata Rini.
Menurutnya, kebanyakan yang menjadi korban adalah anak-anak dengan persentasi 55,4 persen dan korban dewasa tercatat kurang lebih 44,6 persen.
Parahnya, para pelaku justru daru lingkungan dekat seperti, ayah tiri, paman, kakek hingga tetangganya.
“Kasus bapak tiri bisa melibatkan tiga anak sekaligus, ada juga kasus tukang parkir di Padalarang dengan dugaan lebih dari sepuluh korban,” ujarnya.
Akibat peristiwa tersebut, tak sedikit korban yang mengalami trauma cukup mendalam bahkan ada yang memilih menolak kembali bersekolah.
“Ada yang sampai harus dirujuk ke RSJ Cisarua karena trauma akut. Mereka menjerit setiap bertemu laki-laki yang mirip pelaku,” Ucapnya.
Rini menambahkan, semua laporan tetap ditindaklanjuti. Korban mendapat asesmen psikologis, trauma healing hingga layanan konseling. Pihaknya juga melakukan kunjungan langsung ke setiap rumah korban.
“Saya harap meski proses pemulihan panjang, anak-anak bisa kembali bangkit dan tidak terus terjebak dalam trauma,” pungkasnya. ***











